
akhirnya, film yang aku cari-cari dvdnya bisa aku tonton. dan diberi kesempatan untuk mereviewnya. what a gift.
sewaktu diputar di bioskop, aku masih di padang, dan saat kembali ke jakarta, sudah tidak diputar lagi di bioskop. itu bulan desember 2008. dan sekarang awal Juli 2009, dvdnya baru dirilis.
beragam kabar mengenai film ini sudah aku dengar. seorang teman pencinta film bilang, bagus. ada kritikus bilang dipajangnya foto dian sastro dicover hanya untuk komersil. sementara, tokoh utama, semestinya adalah tiga santri ; Huda (Nicholas Saputra), Rian (Yoga Pratama) dan Sahid (Yoga Bagus).
terlepas dari itu semua, mesti diakui film ini kutaroh di urutan film indonesia wajib tonton. diantara fiksi.gie. janji joni.
nurman hakim
bagaimanapun, sosok satu ini tidak bisa dilupakan begitu saja. ialah dalang dibalik suksesnya film yang menjadi pilihan berbagai ajang film festival internasional ini. seorang penulis skenario, sutradara serta produser.
pengalaman dan pendalamannya terhadap materi pesantren, cukup mumpuni. tema saling respect dan understanding sangat tepat ditunjukkan di saat berbagai konflik seputar agama, khususnya Islam mulai merebak. tidak hanya di indonesia, tapi juga di belahan dunia, ketika isu terorisme menyerang wtc yang dikenal 9/11. amerika serikat seakan menyatakan perang terhadap islam. aliran islam garis keras atau ekstrim dianggap teroris. yang minoritas ini menjadi generalisasi kaum muslim.
maka kemudian nurman menghadirkan sahid sebagai penggiring cerita ekstrimisme islam ini. sebagai kaum minoritas.tak pelak, ketiga tokokh utama pun ditangkap hanya karena kewaspadaan terlalu tinggi akan terorisme. meski tidak cukup bukti untuk itu.
maka, huda dan rian menjadi pelengkap kehidupan anak santri. huda yang merindukan ibu dihubungkan dengan dona satelit yang dimainkan Dian Sastro. NIlai komersil poin ini wajib agar tidak melulu soal islam. dan kehadiran nico dan dian jelas memberi nilai plus film ini.
plot yang dibangun nurman mengalir dengan baik. polemik tiga tokokh dihadirkan selangseling dengan bumbu kehidupan para santri. termasuk menampilkan orientasi seksual sesama jenis, yang konon biasa terjadi di pesantren.
nico dan dian
sukses ada apa dengan cinta, menjadikan nico dan dian idola secepat kilat. kehadiran mereka kembali dalam satu scene seperti menunggu kembalinya leonardo dicaprio dan kate winslet pasca titanic di film revolutionary road.
chemistry keduanya kembali dituntut lewat peran huda dan dona satelit. huda memanfaatkan dona untuk impiannya bis abertemu ibu di jakarta. sementara dona kemudian membutuhkan bantuan huda untuk merekam videonya sebagai syarat seleksi casting. jadilah adegan record dian berakting di sebuah jembatan menjadi adegan yang menarik. konon, di sejumlah festival internasional, adegan ini mampu mengundag tawa penonton meski tidak dimenegrti bahasanya.
adegan tersebut memang kocak dan ironi. dian dengan berbagai gaya, berakting sambil direkam oleh nicholas yang mesem-mesem. lihatlah wajah dian kala berakting ala sinetron. untuk adegan ini, dian berhasil.
yang mencuri perhatian
yoga pratama. yup. aktor yang dulunya sudah berkecimpung di dunia televisi ini kembali berakting dalam film ini sebagai rian, mendampingi nicholas. aktingnya yahud. natural dan pantaslah kalau ia mendapat penghargaan pemeran pendukung terbaik dalam FFI 2008.
Yoga benar-benar mencuri perhatian disetiap adegan yang menuntut perannya. bahkan, nicholas pun mesti memberi kesempatan buat aura cowok satu ini.
all in all, tidak hanya materi yang kuat, nurman berhasil membawa para aktornya menjadikan film ini begitu kuat. masa depan film indonesia makin menjanjikan dengan bertambahnya sutradara dan penulis skenario yang bagus. Selain menunggu karya-karya berikutnya dari para sutradara yang mencerahkan film Indonesia, seperti riri riza, nia dinata, joko anwar, hanung bramantyo, dan mouly surya.*